“Modest Wear”, Gamis Syar i 2016 dan Pandangan Orang-orang Tentang Tren Busana Belakangan

gamis syar i 2016

Dua tahun belakangan, kemunculan hijabers Indonesia semakin banyak. Mereka mulai mencuat di berbagai sosial media, terutama Instagram. Berbagai kreasi hijab dan padu-padan gamis syar i 2016, 2017 dan outfit lawas pun mulai bertebaran. Namun demikian, perubahan fashion memang begitu cepat. Selang satu tahun saja, item fashion mendadak berubah dan para wanita pun memburu berbagai koleksi terbaru.gamis syar i 2016

2016 merupakan titik mencuatnya dunia fashion muslim di kancah mode internasional. Ditandai dari negara Prancis yang tahun lalu sempat memunculkan polemik burkini di tempat umum, hingga gamis syar i 2016 yang merajai New York Fashion Week. Tahun lalu media barat menggarisbawahi headline tren fashion Islam yang mendadak booming.

Dilansir dari situs Hindustan Times, (03/03), seorang gadis berusia 19 tahun muncul untuk pertama kalinya di dunia fashion sebagai model Islam yang memakai hijab. Ia muncul sebagai Miss Minnesota USA yang mengalahkan kandidat lain dengan hijab dan sebuah burkini di tengah kompetisi. Ia juga sempat mengungkapkan kegembiraanya tentang Islam dan menuliskannya di Instagram, “Kecantikan bukan hanya satu ukuran yang cocok untuk semua orang. Kita harus merayakan dan menyambut setiap orang yang datang dari latar belakang berbeda,” tulisnya.

Sementara itu, desainer muda Indonesia Anniesa hasibuan mengelar fashion show bulan September tahun lalu dengan meluncurkan koleksi yang bertajuk “New York Fashion Week Spring/Summer 2017”. Ia mengubah pandangan barat mengenai Islam dengan memuncul koleksi gamis syar i 2016 didukung item lain seperti tunik, celana, dan setelan modest lainnya. Tentunya, semua orang memuji kerja kerasnya dan titik penting dimana ia menjadi bagian sejarah.

Awal tahun, sebelum kemunculan Anniesa di New York Fashion Week, Dolce & Gabbana sudah lebih dulu mengeluarkan item khusus untuk para hijaber. Mereka memunculkan koleksi hijab dan gamis syar i 2016 dengan gaya yang lebih modern. Bahkan Dolce & Gabbana menggandeng Oscar de la Renta dan DKNY, serta Uniqlo and Mango.

Seorang desainer modest fashion mengungkapkan pandangan yang berbeda, bahwa kesederhanaan tidak terlalu perlu dihubungkan dengan agama.

“Kesopanan tidak perlu dihubungkan dengan agama. Ini sesuatu yang sekarang dihubungkan dengan gaya hidup,” dilansir dari situs Haatretz. Ia juga mengutip “Mipsterz” yang mana muslim hipsters menutup kepalanya tapi tidak perlu menghubungkannya dengan busana keagamaan.

“Dunia mulai berubah. Apa yang dulu dianggap kuno sekarang disebut feminis. Sekarang, ada model ‘hijabista’ yang merupakan kombinasi antara hijab dan fashionista. Dan mereka mendominasi. Dunia mulai menerima perbedaan bukan sebagai hal yang menakutkan.”gamis syar i 2016

Konsep modest wear ini agaknya memiliki banyak sekali perspektif. Seperti yang ditulis dalam situs NY Times dimana kesopanan atau “modesty” memiliki batasan berbeda di berbagai agama. “Modesty” dalam Islam memiliki konteks berbeda yang berupa memakai pakaian yang longgar dan menutup kepala dengan hijab. Sementara Yahudi Orthodox memakai kemeja dan memakai pakaian saja kemudian menutup kepala dengan wig. Sementara itu, wanita kristiani mungkin menampilkan konsep yang berbeda seperti menghindari bikini, situs NY Times (1/11/2016).

Terlepas dari semua pendapat mengenai konsep berpakaian tema “modest wear”, kemunculan busana muslim seperti gamis syar i 2016 menjadi jalan baru untuk memperkenalkan keindahan Islam dan membuka mata dunia bahwa perbedaan itu bukanlah hal yang menakutkan. Tren hijab dan busana longgar semakin tinggi, dan kita patutnya berterimakasih kepada wanita yang mengubah sejarah soal kecantikan yang selalu diidentikkan dengan memakai busana yang menunjukkan lekuk tubuh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *